Selamat Datang di Official Website Future Leader Institute. Info lengkap hubungi : 0899.2159.530

Selasa, Mei 12, 2009

Ayo M.E.M.B.A.C.A (bag 2)

Sahabat Master.
Pada bagian 1 kita telah mengulas tentang bagaimana seorang Thomas Alva Edison menjadi orang-orang sukses dengan kebiasaan "membaca". Nah pada bagian kedua ini saya ingin berbagi fakta kepada sahabat master tentang "membaca". Sebuah kebiasaan yang membuat Jepang mampu mejadi salah satu negara super power ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Inggris. Mengapa saya mengangkat negara Jepang? ya karena Japan is unic. Jepang itu negara yang unik. Luasnya tak lebih luas dari pulau jawa. Tekstur geografisnya juga tidak sesubur dan seindah negara kita. Jumlah penduduknya hanya sepertiga jumlah penduduk Indonesia. Bahkan, pada tahun 1945 kita semua masih ingat bahwa Jepang pernah dibom atom oleh Amerika Serikat yang meluluhlantakkan hampir 90 persen wilayahnya.



Namun, justru dari segala kekurangan dan keterpurukan itulah Jepang bangkit menjadi 'Negera Super Teknologi' di Asia bahkan di dunia. Saya sebut Negara Super Teknologi karena di Jepang selalu lahir teknologi baru setiap 7 menitnya. Fantastis bukan. Lalu kita bertanya-tanya, kok Jepang bisa seperti itu ya? Anda ingin tahu jawabannya? baiklah saya akan sampaikan fakta-fakta yang membuat mengapa Jepang bisa menjadi negara maju dan Indonesia dengan status negara berkembangnya sejak 30 tahun yang lalu.

Salah satu kebiasaan yang tak pernah hilang dari rakyat Jepang sejak ratusan tahun yang lalu adalah membaca. Membaca menjadi salah satu 'kebutuhan primer' buat mereka. Ini berarti bahwa orang Jepang mempunyai prinsip hidup bahwa membaca = makan. Satu hari saja mereka tidak membaca bisa membuatnya kelaparan. Budaya sederhana dan ringan, namun sangat besar pengaruhnya bagi kemajuan bangsa bahkan dunia. Ada satu budaya membaca yang menarik di Jepang, namanya Tachiyomi. Ada yang tahu artinya ? Ya, Tachiyomi itu adalah membaca di toko buku sambil berdiri tanpa membeli buku tersebut. Unik ya. Semua toko buku di Jepang sangat mendukung kebiasaan ini. Bahkan pemilik toko mengatakan bahwa omset penjualan meningkat sejalan dengan ramainya orang yang melakukan Tachiyomi di toko mereka. Uniknya lagi, Tachiyomi dilakukan oleh semua kalangan baik anak-anak, orang dewasa, sampai manula, yang sudah kerja pun biasa juga melakukan tachiyomi. Jadi dengan begitu tidak ada alasan bagi orang Jepang untuk tidak membaca.
Selain itu Jepang punya 23.000 toko buku plus jejaring perpustakan publik di seantero wilayahnya. Woow..jumlah yang fantastis dan sangat banyak. Anda akan puas berbelanja buku di Jepang. Tapi sahabar master harus mentranslate terlebih dahulu buku-buku itu ke dalam bahasa Indonesia. Nah, coba kita bandingkan dengan negara kita. Indonesia hanya punya 540 toko buku dan 45 perpustakaan publik di seantero tanah air. Menyedihkan bukan. Belum lagi tidak semua toko buku membolehkan Tachiyomi dan harga buku yang melangit menjadi satu-satunya alasan untuk tidak membaca. Ini baru toko buku. Mari kita lihat jumlah penerbit dan banyaknya buku yang diterbitkan setiap tahunnya. Jumlah penerbit aktif di jepang berjumlah 4.300 yang menghasilkan 65.000 judul buku per tahunnya. Bahkan pada tahun 2003, Jepang berhasil menerbitkan 72.608 judul buku. Indonesia punya 430 penerbit yang menghasilkan 700 judul buku per tahunnya. Lihat perbedaannya sahabat master. Inilah faktanya. Inilah yang membedakan mengapa Jepang menjadi Negara Maju dan Indonesia masih dengan status Negara Berkembangnya. Padahal Jepang dan Indonesia berada dalam satu rumpun Asia dan Ras. (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar