
Word of Mouth Marketing mungkin merupakan salah satu teori komunikasi pemasaran yang paling ampuh. Dinilai efektif dan tentu tidak memakan biaya iklan dan kampanye yang mahal. Hanya diperlukan konsistensi, dedikasi dan tindakan yang nyata terhadap sebuah kualitas barang atau jasa yang dijual. Dan jika suatu brand produk lekat dengan sebuah label nama atau icon maka secara sederhana konsumen melakukan generalisasi yang sederhana pada kesamaan nama tersebut.
Anda, jika sempat berkeliling kota di Pontianak pada malam hari tentu akan cukup tergelitik dengan implementasi dari teori ini. Ditambah lagi dengan teori pecintraan iconical terhadap sebuah produk/jasa. Walaupun mereka mungkin tidak pernah belajar di bangku kuliah atau sekolah tentang segudang dan seabreg teori ini tapi nyatanya mereka-para praktisi ini, sudah jauh lebih dahulu mempraktekkannya.
Jika kita melihat angka statistik, maka jangan heran jika perekonomian kota Pontianak di malam hari banyak sekali digerakkan oleh pedagang informal (kaki lima dan pinggir jalan). Hampir semua jalan raya tak ada yang tidak tersentuh oleh para penggiat usaha/pedagang informal ini. Dari Barat ke timur maupun Utara ke Selatan. Yaah... orang Pontianak (atau setidaknya orang yang tinggal di Pontianak) agaknya memang hobby makan di luar. Dari resto kelas kaki lima, warung kopi hingga restoran high kelas tiap malam tak pernah sepi dari pengunjung.
Berikut ini adalah kata-kata yang menjadi icon dan key word terhadap varian wisata kuliner di Pontianak:
Lamongan: identik dengan pecel lele dan variannya.
Entah apakah dulu orang yang pertama membuka lapak Pecel Lele di Pontianak ini adalah berasal dari orang-orang Lamongan? Atau kah memang Pecel Lele itu sendiri berasal dari kota tersebut? Padahal sewaktu saya masih di sekolah menengah di Jogja, saya tidak pernah mendapati kata Lamongan identik dengan Pecel Lele. Namun kenyataanya, setiap lapak dagangan Pecel Lele biarpun yang jualan bukan orang Lamongan bahkan orang Cina sekalipun, maka nama yang digunakan tetaplah LAMONGAN.
Dan sepertinya cukup menjadi jaminan kalo pecel lele atau pecel ayam yang di lapaknya ada kata Lamongan-nya akan mendapatkan tempat di pasarnya.

Solo: identik dengan gulai, Sate Kambing, Gulai, Tongseng dan Nasi Goreng, Ayam Kremes, Ayam Goreng, Sosis.
Kota yang jadi jantung-nya pulau Jawa ini cukup memberikan warna tersendiri terhadap keberagaman jajanan dan penganan malam di Pontianak. Biasanya lekat dengan makanan yang bersentuhan dengan ayam goreng dan ayam penyet (ada Wong Solo), sementara yang mulai booming adalah ayam kremes. Sedangkan yang cukup senantiasa mendapatkan tempat tersendiri bagi penggemarnya adalah Gulai, Tongseng dan Sate ayam-kambing khas Solo yang berbeda jauh dengan sate melayu. Dan satu lagi yang tak tergilas roda zaman adalah nasi goreng dan atau nasi mawut yang digoreng di atas tungku arang. Sensasi rasanya berbeda dengan nasi yang digoreng dengan kompor minyak. Anda tidak percaya? Buktikan sendiri.
Sementara untuk kelas jajanan sore teman minum teh di waktu senja menjelang adalah sosis solo. Sosis yang tiada duanya. Maknyus!
Bandung: identik dengan Siomay, Martabak, roti bakar dan Bubur Ayam.
Kata ”Bandung” jelas sulit dipisahkan dengan makanan olahan ikan nan gurih ini, perkawinan paksa antara dimsum dengan bakso ikan . Begitu identik dan erat kaitannya sehingga orang tidak akan bisa menerima jika ada yang menawarkan dagangannya dengan sebutan Siomay Madura atau Siomay Batak. Wakakaka... aneh bukan? Lagi-lagi sekalipun yang menjajakan bukanlah orang Bandung!. Di kota Pontianak ini sepertinya jajanan ini memang tidak cukup banyak jika dibandingkan dengan Pecel Lele Lamongan.
Bahkan untuk menjaga orisionalitas barang dagangannya ada seorang teman yang sengaja mendatangkan orang aseli Bandung ke Pontianak untuk sekedar berjualan Siomay. Dan hasilnya? Fantastis, belum genap sepekan omsetnya sudah ratusan ribu mendekati 1 juta perhari. Wow...
Makanan/jajanan lain yang juga lekat dengan kata ”Bandung” adalah Martabak Manis dan Roti Bakar, walaupun yang jual tidak bisa bahasa Sunda alias Sunda Kapiran tetap aja kalo udah ada embel2 kata ini konsumen serasa mendapatkan guaranty atas quality.
Palembang: identik dengan Pempek
Dua kata ini memang tidak bisa diperdebatkan lagi. No doubt. Pempek itu yang Palembang! Dan satu-satunya pempek yang benar-benar ”Palembang”: cuma yang disekitaran jalan Hijaz dekat masjid Al Manar, yang di salah satu dindingnya ada gambar Sultan Palembang yang flamboyan dan charming itu.
Malang: identik dengan Bakso
Paduan kata yang satu ini juga 11-12 dengan uraian di atas. Kalau sudah Bakso ditambah kata ”Malang” maka kita akan mendapatkan citra produk bakso yang jelas punya kelas dan berbeda dengan bakso melayu pada umumnya.
Yogya: identik dengan Gudeg
Ini juga sudah haqul yaqin. Kalo Gudeg dipadu dengan kata Surabaya pasti orang bakal sangsi dan justru ogah untuk datang. Gudeg itu yang sudah ”paten”-nya Jogja. Ya to dhab?
Jakarta: identik dengan Bubur ayam, Soto.
Untuk kata Jakarta, sepertinya baru dua jenis panganan itu yang biasanya mengait pada nama ibukota republik ini.

Makassar: identik dengan Coto dan Conro
Dan sepertinya yang lolos verifikasi dan uji materi kelayakan cuma the one and the only yang berada di jalan Johar, milik Daeng Mustang.
Bundo-Bundo: identik dengan resto masakan padang, ada Harapan Bundo, Doa Bundo, Sari Bundo, dan Bundo-bundo yang lain. ^_^
Arema: identik khas makanan Jawa pepak (lengkap) dan yang spesial adalah: krecek-nya!
Mau cari seafood...pontianak punya pondok nelayan.lokasi tepat di depan Megamall. Tentunya dengan aneka olahan seafood yang menggugah selera makan anda..hehehe.
Pontianak memang topp...The City of food lovers...kata orang siapapun dia bahkan orang bule sekalipun mereka bilang kalo di pontianak perutnya enak aja..makanannya pas banget di lidah. Mie ayam paling enak se Indonesia katanya juga ada di Pontianak...ini kesaksian orang depok lho..trus pontianak punya Es Shanghai...khas banget..dan nggak bakal ada ditempat lain...Es Shanghai favorit ada di depan Kaisar..Mie Kocok yang khas juga ada di pontianak tuh kayaknye...di jalan johar juga...hehehe..dan yang paling fenomenal adalah Nasi Goreng Fatimah yang menjadi iconnya nasi goreng terenak di Pontianak..heheheh...mantap ye kote kita. Ayo kampanyekan pontianak sebagai kota kuliner..di Pontiank The City for Food Lovers
Nah bagi anda yang ingin berwisata kuliner, bisa menjadikan beberapa alternatif iconical food di atas sebagai panduan. Semoga bermanfaat.
lho?jadi apa hubungannya dengan judul "pontianak under kompor"????
BalasHapusHo'oh... kirain berkaitan dgn global warming, ternyata kompor beneran alias kuliner =))
BalasHapusooh...jadi semuanya ngirain ini artikel tentang global warming gitu ya...hehe...
BalasHapussaye kire malah resensi buku, soalnye pernah liat buku kocak judulnye "Jakarta under kompor".
BalasHapus