Selamat Datang di Official Website Future Leader Institute. Info lengkap hubungi : 0899.2159.530

Selasa, Mei 19, 2009

Jalan-jalan cari film...


Salam Master,

Gimana kabarnya pagi ini? Mudah-mudahan senantiasa dalam kebaikan untuk memulai hari ini dengan penuh keberkahan. Hari selasa menjadi salah satu hari favorit buat saya karena bisa berbagi banyak hal menarik kepada Sahabat Master. Ya, kali ini kita akan meresensi sebuah film fenomenal yang akan tayang di bioskop seluruh Indonesia. Satu-satunya film Indonesia yang lokasi shootingnya di Mesir, negara super sulit dalam urusan perizinan membuat film. Namun, alhamdulillah berkat pertolongan Allah, Indonesia kembali melahirkan sebuah karya besar dari seorang Habiburrahman El Shirazy yang berjudul Ketika Cinta Bertasbih.


Film yang diangkat dari novel berjudul Ketika Cinta Bertasbih ini seolah menjadi magnet baru dalam dunia perfilman Indonesia yang hari ini sedang dilanda krisis idealisme lewat munculnya film-film berbau horor, mistik dan prilaku seks bebas. Kenapa saya mengatakan hal ini? Hari Kamis 2 pekan yang lalu tepatnya tanggal 7 Mei 2009, saya dan teman kantor saya berjalan-jalan ke salah satu mall terbesar di kota Pontianak. Memang niatnya ingin cari film karena malam harinya saya diminta oleh salah satu kampus perawat untuk memberikan bedah film dalam rangkaian acara Ultah kampus mereka. Nah, saya dan teman saya langsung menuju sebuah toko film di lantai 3 mall tersebut. Saya masuk dan langsung mencari rak film-film Indonesia. Film yang saya cari sebenarnya berjudul "Rindu Kami Pada-Mu" oleh Garin Nugroho. Namun, alangkah terkejutnya ketika sampai di rak film-film Indonesia, saya langsung disuguhkan dengan film-film yang aduh menurut saya sangat tidak pantas dipajang ditempat umum. Apalagi toko itu tidak melarang anak kecil untuk masuk ke dalam. Dengan judul yang semakin berani dan tampilan gambar tak senonoh di covernya membuat hati ini sempat beristighfar berulang kali sembari terus mencari deretan VCD dan DVD di rak tersebut berharap ada film bagus yang mungkin terselip di antaranya. Setelah hampir setengah jam mencari, kami hanya menemukan film Ayat-Ayat Cinta, Wanita Berkalung Surban, Naga Bonar, Naga Bonar jadi 2, Sherina, dan Laskar Pelangi. Bayangkan hanya ada tidak lebih dari 10 film yang layak tonton di antara ratusan judul film Indonesia yang dijual di toko itu. Karena bingung akhirnya saya membeli film berjudul "Turtles Can Fly" tentang kisah nyata perjuangan anak-anak korban perang Irak, yang nanti juga akan kita bahas dalam rubrik ini.

Sahabat Master,

Begitulah sekilas kondisi perfilman kita saat ini. Sangat tidak terkontrol dari segi kualitas isi dan nilai yang ingin dibangun. Maka dari itu mari kita bangkitkan kembali perfilman Indonesia dengan film-film berkualitas. Kita lawan segala bentuk penghancuran idealisme bangsa dengan cara TIDAK MENONTON FILM-FILM YANG BERTEMA HOROR DAN SEKS BEBAS.

Salam Master,
by fakhrul-insightmaster

2 komentar:

  1. setuju bgt hrs kita lawan film2 indonesia yg justru tidak bermutu caranya dg tdk menonton film2 tersebut...klo gw sih dgr judulnya aja udh mls palgi liat cuplikan adegannya bikin eneg bgt!tp alhamdulillah msh byk jg sineas2 indonesia yg oke...yg msh terus menelurkan krya2nya yg bermutu dr segi moral bangsa dan agama.patut kita dukung!
    Turtles can fly...mnyentuh bgt!prnh ditayangin di metro tuh.

    BalasHapus
  2. nah..ntar juga insya Allah akan kita bahas di sini..turtles can fly...ayo bantu kampanyekan ya...

    BalasHapus