Selamat Datang di Official Website Future Leader Institute. Info lengkap hubungi : 0899.2159.530

Minggu, Mei 17, 2009

Si Sulung yang sibuk.....


Dikisahkan di sebuah kota yang ramai, hiduplah sepasang suami istri bersama anak-anaknya yang masih kecil. Mereka hidup bahagia dengan melewati hari-hari dengan sederhana. Dengan bekal sebagai seorang penjual manisan, sang suami giat mencari uang demi anak dan istri tercinta.

Tak terasa waktu demi waktu telah berlalu, dan anak-anaknya pun telah kian dewasa. Si sulung yang telah manamatkan pendidikan tingginya, telah berhasil mendapatkan pekerjaan yang layak. Dengan giat setiap hari di bekerja, dan dia pun berhasil mendapatkan posisi yang baik diperusahaan karena ketekunannya.

Tanpa disadari, waktu dan kehidupan si sulung lama kelamaan hanya dicurahkannya pada kantor dan teman-teman sekerjanya. Dia pun kehilangan waktu untuk sekedar berbicara dan berbagi dengan keluarganya. Setiap jam 6 pagi dengan cepat dia berangkat kerja, dan sampai jam 12 malam barulah dia menginjakkan kakinya di depan pintu rumahnya, hanya sekedar untuk beristirahat, demikian seterusnya.


Orang tua dan adik-adiknya hanya bisa mendukung tanpa pernah mengeluh sedikitpun, walaupun terkadang mereka juga merindukan untuk dapat berkumpul dengan si sulung barang sejenak, sekedar untuk berbagi cerita.

Pada suatu pagi sang ayah sudah lama menderita penyakit gula, mendadak pingsan dan dalam keadaan kritis. Sang istri yang begitu panik segera melarikannya ke rumah sakit untuk dirawat. Anak-anaknya yang lain pun segera menjenguk ayahnya yang kritis di rumah sakit, hanya si sulung yang tidak tampak.

Adik-adiknya berusaha menghubungi sang kakak di kantornya, namun sang kakak hanya mengatakan akan segera menjenguk setelah pekerjaan di kantornya selesai. Semakin malam masa kritia sang ayah pun tidak membaik. Dan akhirnya sang ayahpun meninggal dunia. Sang istri dan anak-anaknya pun bersedih, namun si sulung pun tidak tampak di antara mereka. Dan tak lama dari waktu sang ayah meninggal barulah si sulung datang menjenguk ayahnya, namun dia telah terlambat, karena sang ayah telah meninggalkannya untuk selamanya. Hanya penyesalan lah yang menyelimuti hati si sulung, karena kesibukan di kantor mengalahkan arti sebuah keluarga dalam hatinya.

Pepatah Tiongkok : keluarga adalah mutiara. Begitu berharganya nilai sebuah keluarga sehingga dia disamakan dengan mutiara. Karena dari sebuah keluargalah kita lahir, tumbuh dan dewasa. Sehingga begitu dalam makna keluarga yang harus kita patrikan di dalam hati kita kelak dan selamanya. Kadangkala kita dengan alasan kerja mengabaikan keluarga kita, suami, istri, orang tua ataupun anak-anak kita. Namun kita lupa bahwa sesungguhnya kebahagiaan sejati bukan hanya diukur dari materi namun dari kehangatan sejati yang kita peroleh dari saling berbagi dalam kebersamaan sebuah keluarga. Kita boleh bersosialisasi dengan orang diluar keluarga kita namun alangkah bijaknya jika kita juga bisa meluaangkan sedikit waktu kita yang berharga untuk memberikan curah kasih kepada kelurga kita.

Salam Master,
by fakhrul-insightmaster

Tidak ada komentar:

Posting Komentar