
Dalam lorong kehidupan kaki langit
Terkadang, ada rasa dimana
Dada serasa sesak, dan seolah menyempit
Bukan karena ingin hidup layaknya “makhluk langit”
Yang suci lagi terjaga
Dan juga bukan bermaksud meninggalkan kaidah bumi
Yang manusiawi…
…
Lorong-lorong yang memiliki berbagai persimpangan
Bak labirin kehidupan
Siapa memiliki bekal yang cukup
Ia takkan tersesat
Dan memang seharusnya begitu
…
Lorong hidup
Kadang bersahabat
Ada canda tawa disana
Kadang memeras kesabaran
Menguras air mata
Berhias duka
Ya…tiap lorong punya kisah berbeda
…
Ah…
Kadang terlupa
Kita sedang bermain…
Ya, kita sedang bergelut dengan salah satu episode lorong itu
Apakah sedang melewati track lurus tanpa hambatan
Atau track yang penuh liku
Atau track yang “entah bagai mana”
…
Waha…
Wajarlah kau terjaga
Ketika lorong mu “aman’’
Sekeliling mu dipenuhi “manusia-manusia yg manusiawai”
Serta aturan-aturan “bijak”
Tapi…
Kau sungguh “tangguh”
Ketika mampu bertahan
Seketika lorong mu berubah arah
Lorong penuh onak dan duri
Lorong dasyat “penggugah iman”
Memaksa tangis ketika “menghadap Tuhannya”
Lorong yang menjauhkan “aturan-aturan langit”
Episode yang yang seolah ingin merenggut jiwa
Aah….
Sudah habis rasanya…
…
Ini yang ku sebut proses
Lorong dengan “kaidah roda”
Kita dipergilirkan dengan “stage-stage ujian’’
Yang stage itu sendiri berkaidah “pohon”
Semakin tinggi “cenderung “ keras tamparan angin
Maka…
Berteriaklah…
Mungkin saja itu membantu
Namun ku rasa tidak…
…
Sebagian kita semakin kokoh
Melaju bersama gerbong yang melintasi lorong ini
Dan…
Ada juga yang menemui titik terendah
Bahkan tergilas roda…
Lalu mati bersama rasa putus asa dan kecewa…
…
Aku teringat pesan langit
Yang turun sebelum kelahiranku…
“Faidza ’azamta fatawakkal ’alaLlah, innaLlaha yuhibbul mutawakkilin”
Dan ternyata itulah yang tertulis
Pada gerbang awal labirin ini…
…
Istiqomahlah, untuk dirimu, dan untuk yang lain…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar