Alkisah dicerita hujan membasahi sebuah kota sunyi di pinggiran ibu kota. Angin kencang serta gemuruh kilat yang menyambar, membuat suasana kian mencekam. Tidak lama setelah hujan turun dengan deras, terlihat butiran-butiran air hujan mulai mengenangi selokan dan tumpah sedikit demi sedikit ke jalanan. Kian lama kian banyak air hujan yang tumpah ke jalan tersebut sehingga genangan-genangan air pun mulai tampak di setiap sisi jalan di kota itu. Dan banjir pun telah menghampiri kota tersebut.
Setelah kejadian di kota sunyi tersebut, di atas sana terlihat awan dan angin sedang berdiskusi hebat. Mereka saling menyalahkan atas kejadian banjir yang terjadi pada kota sunyi tersebut kemarin.
"Wahai awan yang congkak, coba kau lihat hasil perbuatanmu, karena kecongkakanmu lah engkau menghasilkan air yang begitu banyak sehingga mengakibatkan banjir di kota sunyi tersebut, apakah engkau tidak malu atas perbuatanmu? kata angin kepada awan
"Bukankah engkau, yang mendorong butiran-butiran air dibadanku, sehingga butiran-butiran air menyirami kota tersebut". Kata awan dengan lantangnya.
Mereka masih berdebat dan mempertahankan pendapatnya masing-masing. Tak jauh dari mereka terlihat burung elang yang mendengar percakapan mereka dan datang menghampiri.
"Wahai angin dan awan, ada masalah apa, kok wajah kalian tegang sekali? tanya si Elang.
Mereka pun menjelaskan pokok masalahnya kepada elang, sambil tersenyum elang pun berkata dengan bijaknya
"Dengarkanlah wahai sahabatku, sebelum kalian saling menyalahkan, kenapa kalian tidak melihat ke dalam diri kalian masing-masing, bukan saling menyalahkan? lanjut sang Elang "Yang kalian lakukan hanyalah sebuah proses yang saling berkaitan, dan tidak ada salahnya atas perbuatan kalian berdua, angin mendorong awan untuk membuat hujan, dan awan menurunkan butiran-butiran air ke bumi, sehingga harusnya kalian bersyukur atas karunia tersebut bukannya malah saling menyalahkan, apakah kalian mengerti maksudku?" jelas sang elang dengan lugasnya.
Sahabat Master,
Kadang kala kita terlalu sibuk untuk menyalahkan orang lain, tanpa pernah berintropeksi terhadap perbuatan kita sendiri. Sehingga kita lupa bahwa prilaku orang lain kepada kita adalah anugerah yang besar buat kita, karena kita terlalu sering memanjakan ego kita dan memaksa orang lain untuk menuruti kemauan kita, walaupun tanpa kita sadari yang kita lakukan adalah kesalahan. Mari mulai saat ini, sebelum menyalahkan orang lain, ada baiknya kita mengintropeksi diri kita, apakah perbuatan kita sudah benar dan tidak merugikan orang lain, karena sesungguhnya orang yang bijak harus berani mengkritik dirinya sendiri sebelum mengkritik orang lain.
Salam Master,
by fakhrul-insightmaster
aih, postingan ini mau tidak mau mengingatkan dini pada postingan dini di halaman ini.
BalasHapusHehe.. really nice to talk about semut di kejauhan for some irresponsible people, anyway ^_^ hopefully they won't be us here.
intinya sama aja dek dini.....
BalasHapus