Selamat Datang di Official Website Future Leader Institute. Info lengkap hubungi : 0899.2159.530

Sabtu, Januari 02, 2010

SANG PEMIMPI - SEBUAH INPIRASI


Salam Master,

Satu pekan ini ada perasaan yang begitu menguasai hati dan pikiran saya. Ya, perasaan bangga..bangga karena menjadi manusia Indonesia...bangga karena ternyata manusia-manusia Indonesia adalah manusia-manusia hebat, setidaknya itulah yang saya rasakan ketika menonton sebuah film yang sungguh penuh inspirasi..ya film SANG PEMIMPI yang diangkat dari novel Andrea Hirata.

Nah, saya ingin sedikit berbagi inspirasi yang saya dapatkan saat menonton film itu, sekaligus mungkin menjadi referensi buat sahabat master yang belum sempat nonton filmnya.

Cuma satu kata yang pantas untuk film itu...TOP. Kita semua tentu tahu bahwa Tetralogi Laskar pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirata adalah novel realita yang merupakan napak tilas kehidupan beliau sejak SD sampai selesai kuliah S2 di Paris. Itulah yang membuat novel-novel tulisan Andre Hirata begitu enak untuk dinikmati.

Tidak jauh berbeda dengan novelnya, dua film terakhir yang dirilis dari novel tersebut ternyata mampu menyedot animo masyakat untuk kembali melihat dan menyadari bahwa dunia dan kehidupan ini begitu menarik, sangat menarik. Karena ada harapan, cita-cita, dan MIMPI BESAR yang hadir di sana.


Laskar Pelangi yang telah lebih dulu hadir menjadi awal cerita penuh mimpi. Dan sungguh penuh inspirasi. Jejak-jejak langkah itu kemudian di pertegas dengan kehadiran SANG PEMIMPI.

Saya tersentak sejenak dan merenung...Subhanallah ternyata ada manusia yang mungkin menurut kita mereka tidak diberi kesempatan untuk menikmati kesenangan dunia berupa harta, dsb.

Tapi kita salah, mereka memang tidak diberikan dunia itu secara langsung, namun mereka diberikan oleh Allah sebuah kunci untuk menguasai dan menaklukkan dunia. Kunci itu adalah MIMPI.

"Kalo'tak punye mimpi dan harapan, orang macam kite nih pasti mati, kal" Kata-kata itu sederhana, tapi sangat kuat. Kuat karena lahir dari mulut seorang anak manusia yang harus hidup sebatang kara ditinggal mati seluruh keluarganya. Kuat karena keyakinannya akan sebuah mimpi dan harapan mengalir bersama darah dan helaan nafasnya.

Inilah kata-kata yang membuat saya begitu bangga mengenal mereka (Arai, Jimbron dan ikal - andrea hirata). Karena mereka anak-anak negeri ini. Negeri yang lahir dari mimpi-mimpi para syuhada dan pahlawan.

Itu tentang mimpi. Selain itu film ini juga memperlihatkan kepada kita betapa pendidikan pada saat itu mendukung anak2 itu untuk mewujudkan mimpi mereka. Mereka di didik oleh orang-orang luar biasa.

Guru-guru besar. Kenapa saya katakan guru besar? karena guru-guru mereka adalah guru-guru yang sungguh luar biasa. Guru-guru yang juga punya mimpi dalam mendidik muridnya. Guru-guru yang mendidik dengan segenap hati dan keikhlasan mereka. Mendidik dengan harapan, mendidik dengan kemurnian niat tanpa menginginkan apapun kecuali melihat anak didiknya menjadi manusia-manusia hebat.

Setidaknya itulah yang diperlihatkan oleh Pak Mustar dan Pak Ichsan Balia. Guru-guru seperti mereka lah yang mungkin perlu menjadi contoh dan tauladan bagi guru-guru masa kini. Belajar bagaimana cara mendidik seorang anak menjadi manusia-manusia hebat dikemudian hari.

Tidak hanya mengajarkan mereka menggunakan otak kiri namun mengajarkan mereka bagaimana mengoptimalkan otak kanan. Mengajarkan mereka bagaimana membangun motivasi dan cita-cita, mengajarkan tentang bagaimana cara mewujudkan mimpi itu.

Subhanallah...sekali segala puji bagi Allah yang telah memberikan begitu banyak pelajaran tentang hidup ini lewat SANG PEMIMPI..

Sahabat master,
Mari bermimpi, jangan pernah takut untuk bermimpi. Karena mimpi itulah yang membedakan si kaya dan si miskin, mimpi yang membedakan orang sukses dan orang gagal, mimpi yang membedakan pejuang dan pecundang, mimpi yang membedakan penghuni surga dan penghuni neraka...maka bermimpilah...dan wujudkanlah mimpi itu, maka anda akan merasakan bahwa hidup ini indah

Salam Master
by fakhrul-insightmaster

2 komentar:

  1. menurut saya novelnya lebih greget daripada filmnya.

    BalasHapus
  2. jelaslah itu dek...namun setidaknya sebuah film mampu membuat semua yang ada di novel itu terlihat lebih nyata

    BalasHapus