
Tatapan mata itu. Bukanlah sekedar tatapan.
Ia adalah tatapan perpisahan dengan para ikhwah fillah di dunia ini. Untuk menjemput Sang Maut.
Tatapan mata itu, hanya lah sebuah tatapan dari mata yang sangat jarang tidur. Karena malamnya senantiasa diisi dengan tadabbur al-Qur'an. Tilawah yang tartil. Perenungan yang dalam. Mata yang senantiasa menangisi dosanya setiap malam. Yang berharap ampunan Tuhannya.
Tatapan mata itu adalah tatapan yang lahir dari buah Tarbiyah Ruhiyyah. Pembinaan Jiwa yang ditempa dengan besi dan batu dari ayat-ayat-Nya, yang dikerjakan, dilaksanakan, disyiarkan, diaplikasikan dalam kehidupannya hingga matinya. Tatapan mata itu keluar dari lubuk hati yang teramat dalam. Buah dari Ma'rifatullah [Pengenalan kepada Alloh] yang teramat panjang. Buah tarbiyyah Ruhiyyah itu mencuat ke luar dari lubuk hatinya. Mengalir melalui saluran-saluran darah dan urat syarafnya. membentuk karakter dan fikroh (pemahaman)nya akan arti kesabaran, keteguhan dan keberanian menghadang setiap wujud pembangkangan terhadap firman-firman Tuhan.
Tatapan mata itu adalah buah dari ketaqwaan. Bahwa al-Qur'an tak cukup hanya dibaca semata! Tak cukup hanya dikhatamkan semata! Lalu seolah-olah kita merasa telah berjasa pada agama ini! Tidak! terlalu bodoh jika kita merasa telah berjasa kepada agama ini, kepada dakwah ini, hanya gara-gara hal-hal yang sedemikian.
Sesungguhnya, perjuanganmu, jihadmu, itu untuk dirimu sendiri, untuk keselamatan jiwamu, Alloh Maha Kaya lagi Maha Terpuji, tak membutuhkan sesuatupun dari alam semesta ini.
Engkaulah yang butuh kepada-Nya!
"Dan sesiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Alloh Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) daripada sekalian makhluk". [QS. Al-Ankabut : 6].
Senyuman itu...
Tumbuh dari keteduhan hati, hati yang disemai dengan cahaya Islam, cahaya Qur'ani. Betapa lebatnya pohon dalam hati itu dengan ayat-ayat Qur'an. Betapa tawadhu'nya tatapan itu. Betapa berkesannya senyuman itu.
Alangkah indahnya kematian, kematian adalah pertemuan dengan Sang Kekasih. Yang selalu diingat dalam hati 24 jam dalam sehari. Kini kekasih hati menjemput kekasih. Alangkah indahnya dapa berkumpul bersama para Nabi, Rasulullah, para syuhada dan orang-orang yang rendah hati di alam akhirat sana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar